Saturday, 30 June 2012
Friday, 29 June 2012
Jenis-jenis Mas Kahwin



p/s : xjumpe yang mane 1 orang melayu pakai dulang tembanga
Riwayat Hidup Imam Ahmad bin Hambal

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau lahir di kota Baghdad pada bulan rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), pada masa Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani abbasiyyah ke III. Nasab beliau yaitu Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin Abdullah bin Hajyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa’labah bin akabah bin Sha’ab bin Ali bin bakar bin Muhammad bin Wail bin Qasith bin Afshy bin Damy bin Jadlah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Jadi beliau serumpun dengan Nabi karena yang menurunkan Nabi adalah Muzhar bin Nizar.Menurut sejarah beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbah bagi kakeknya). Dan setelah mempunyai beberapa orang putra yang diantaranya bernama Abdullah, beliau lebih sering dipanggil Abu Abdullah. Akan tetapi, berkenaan dengan madzabnya, maka kaum muslimin lebih menyebutnya sebagai madzab Hanbali dan sama sekali tidak menisbahkannya dengan kunyah tersebut.
Sejak kecil, Imam Ahmad kendati dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta pada ilmu, kebaikan dan kebenaran. Dalam suasana serba kekurangan, tekad beliau dalam menuntut ilmu tidak pernah berkurang. Bahkan sekalipun beliau sudah menjadi imam, pekerjaan menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih alim tidak pernah berhenti. Melihat hal tersebut, ada orang bertanya, Sampai kapan engkau berhenti dari mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin ? Maka beliau menjawab, Beserta tinta sampai liang lahat.
Beliau menuntut ilmu dari banyak guru yang terkenal dan ahli di bidangnya. Misalnya dari kalangan ahli hadits adalah Yahya bin Sa’id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, sufyan bin Uyainah dan Abu Dawud ath Thayalisi. Dari kalangan ahli fiqh adalah Waki’ bin Jarah, Muhammad bin Idris asy Syafi’i dan Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah ) dll. dalam ilmu hadits, beliau mampu menghafal sejuta hadits bersama sanad dan hal ikhwal perawinya.
Meskipun Imam Ahmad seorang yang kekurangan, namun beliau sangat memelihara kehormatan dirinya. Bahkan dalam keadaan tersebut, beliau senantiasa berusaha menolong dan tangannya selalu di atas. Beliau tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satu-satunya pada hari itu. Disamping itu, beliau terkenal sebagai seorang yang zuhud dn wara”. Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan serta menyibukkan diri dengan dzikir dan membaca Al Qur’an atau menghabiskn seluruh usianya untuk membersihkan agama dan mengikisnya dari kotoran-kotoran bid’ah dan pikiran-pikiran yang sesat.
Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits. Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits. Selain al Musnad karya beliau yang lain adalah : Tafsir al Qur’an, An Nasikh wa al Mansukh, Al Muqaddam wa Al Muakhar fi al Qur’an, Jawabat al Qur’an, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al Manasik Ash Shaghir, Tha’atu Rasul, Al ‘Ilal, Al Wara’ dan Ash Shalah.
Ujian dan tantangan yang dihadapi Imam Ahmad adalah hempasan badai filsafat atau paham-paham Mu”tazilah yang sudah merasuk di kalangan penguasa, tepatnya di masa al Makmun dengan idenya atas kemakhlukan al Qur’an. Sekalipun Imam Ahmad sadar akan bahaya yang segera menimpanya, namun beliau tetap gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan hujjah kaum Mu’tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama. Beliau berkata tegas pada sultan bahwa al Qur’an bukanlah makhluk, sehingga beliau diseret ke penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu’tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.
Imam Ahmad lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di seputar Irak dan Syam. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena rasa sakit dan luka yang dibawanya dari penjara semakin parah dan memburuk. Beliau wafat pada 12 Rabi’ul Awwal 241 H (855). Pada hari itu tidak kurang dari 130.000 Muslimin yang hendak menshalatkannya dan 10.000 orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam. Menurut sejarah belum pernah terjadi jenazah dishalatkan orang sebanyak itu kecuali Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat atas keduanya. Amin.
Hakikat Wali

Dalam tradisi keilmuan Nusantara, dikenal istilah wali. Diantara kata wali yang paling populer adalah 'walisanga' yang berarti wali sembilan sebagai penyebar Islam pertama di Nusantara. Wali juga biasa diidentikkan dengan seseorang yang memiliki kelebihan (karomah). Sebagian dari masyarakat muslim mempercayai keberadaan dan 'kelebihan' yang dimiliki para wali dan sangat menaruh hormat kepada mereka. Kepercayaan itu diungkapkan dalam bentuk mengunjungi maqbaroh untuk bertawassul kepada mereka. Akan tetapi sebagian masyarakat yang lain tidak percaya dengan keberadaan wali bahkan menganggap para wali sebagai sarang ke-bid'ah-an. Hal ini terjadi karena miskinnya pengetahuan atau seringnya pemaknaan kata wali yang merujuk pada hal-hal negatif.
Seorang Sufi dan Ahli Maksiat

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu." Orang itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun."
Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?".
Orang itu lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!" Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah." Pendosa itu kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua." Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?".
"Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru." Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah." Orang itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?" Ibrahim bin Adham menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?".
Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, "Katakanlah yang keempat, Tuan guru." Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut." Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?" Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?".
Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima." Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu." Pemuda itupun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?" pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya."
Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.
Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.
Diambil dari : www.fakhrurozy.blogspot.com
Tuesday, 26 June 2012
Pendermaan Organ Menurut Perspektif Islam
Hukum Pendermaan organ bukan lagi persoalan baru di Malaysia. Fatwa asas mengenainya telah dibuat sejak pada tahun 1970 lagi. Jawatankuasa Fatwa Bagi Majlis Hal Ehwal Agama Islam Malaysia dalam mesyuaratnya yang pertama pada 23 & 24 Jun 1970 telah memutuskan bahawa pemindahan mata dan jantung daripada orang mati kepada orang hidup hukumnya harus.
Orang Islam masih beranggapan bahawa individu yang menderma organ seolah-olah akan tidak sempurna jasadnya ketika dikebumikan kelak. Namun sebenarnya Islam tidak melarang akan proses pendermaan organ ini kerana ia sesuatu amalan yang mulia dan satu lagi bentuk kebajikan.
Dari sudut Islam, pemindahan organ hukumnya adalah harus berserta dengan syarat-syarat seperti di bawah:
• Tidak ada alternatif lain yang boleh menyelamatkan nyawa pesakit
• Tidak mendatangkan mudarat yang lebih besar kepada penderma dan penerima organ.
• Pendermaan organ hendaklah dilakukan dengan ikhlas dengan niat untuk membantu kerana Allah S.W.T.
• Pendermaan organ hendaklah mendapat keizinan penderma dan ahli keluarga atau warisnya.
Fatwa-fatwa di Malaysia Berkaitan Pendermaan Organ• 1965 Fatwa negeri Perlis mengharuskan pemindahan kornea daripada orang yang telah meninggal dunia.
• 1970 Majlis Fatwa Kebangsaan mengharuskan pendermaan organ daripada penderma kadaverik kepada penderma hidup.
• 1989 Majlis Fatwa Kebangsaan menerima diagnosis mati otak sebagai diagnosis untuk kematian.
• 1995 Majlis Fatwa Kebangsaan mengharuskan penggunaan graf tisu untuk merawat pesakit.
• 1997 Fatwa negeri Sarawak mengharuskan pemindahan ginjal daripada penderma hidup dan penderma yang telah meninggal dunia.
Pendermaan Organ Sebagai Sedekah jariahMenurut ulama terkenal, Syeikh Yusof al-Qaradhawi, pendermaan organ terangkum di bawah satu daripada tiga amalan yang akan memberikan pahala berterusan selepas seseorang itu meninggal dunia. Beliau mengkategorikan perbuatan menderma organ sebagai sedekah jariah. Beliau juga berhujah mengenai keharusan pendermaan organ dengan mengatakan bahawa daripada dibiarkan jasad dimamah tanah selepas kematian, adalah lebih baik organ yang boleh digunakan itu didermakan bagi tujuan menyelamatkan nyawa orang lain.
Majlis Fatwa Kebangsaan sejak 23 Jun 1970 menetapkan garis panduan tertentu yang mengharuskan pendermaan dilakukan iaitu:
* Pemindahan organ boleh dilakukan selepas tiada pilihan atau jalan akhir untuk menyelamatkan seseorang yang organnya tidak berfungsi.
* Penderma atau pengikrar organ sudah disahkan meninggal dunia.
* Kebenaran diperoleh daripada ahli keluarga si mati.
* Tidak ada unsur perdagangan atau jual beli bagi organ itu.
Keputusan Lujnah Fatwa (Jawatankuasa Syariah)1. Pemindahan atau pendermaan organ adalah haram dalam keadaan bukan darurat, manakala hukumnya harus dalam keadaan darurat.
2. Orang yang mati otak adalah dihukumkan mati.
Pemindahan organ ada dua keadaan iaitu:
i) Keadaan penderma masih hidup
* Menjalankan kajian perubatan dengan cara terperinci dan profesional tentang kebaikan dan keburukan pemindahan ini, kejayaan dan kegagalan pemindahan.
* Dengan reda penderma, tanpa paksaan.
* Sudah dipastikan pemindahan itu berjaya pada kebiasaannya.
* Keadaan darurat yang mendesak bagi menyelamatkan nyawa orang yang didermakan kepadanya, terutama yang ada hubungan nasab dan keluarga.
* Organ yang dipindahkan bukan dijadikan dagangan dan jual beli, dagangan dan jual beli hanya akan mengundang perbuatan khianat yang memberi mudarat kepada penerima, memberi keuntungan kepada orang tengah dan juga kesempatan kepada doktor-doktor yang tidak bertanggungjawab mengaut keuntungan.
* Kebenaran bertulis daripada penderma dan penderma dibolehkan menarik balik pada bila-bila masa.
ii) Keadaan penderma yang telah mati
* Menjalankan pemeriksaan perubatan dengan cara terperinci dan profesional tentang kebaikan dan keburukan pemindahan ini, kejayaan dan kegagalan pemindahan, ia memerlukan pemeriksaan rapi.
* Dengan reda penderma, melalui wasiat ataupun waris-waris dan perakuan daripada kerajaan.
* Sudah dipastikan pemindahan itu berjaya pada kebiasaannya atau dalam erti kata lain, pemindahan itu dijamin berjaya.
* Dilakukan pemindahan itu dengan penuh disiplin ilmu, iman dan takwa, penghormatan yang sewajarnya kepada si mati mengikut hukum syarak serta tiada unsur-unsur penghinaan.
* Keadaan darurat yang mendesak bagi menyelamatkan nyawa orang yang didermakan kepadanya, terutama yang ada hubungan nasab dan keluarga.
* Organ yang dipindahkan bukan dijadikan dagangan dan jual beli, hanya akan mengundang perbuatan jenayah yang memberi mudarat kepada penerima, memberi keuntungan kepada orang tengah dan juga kesempatan kepada doktor-doktor yang tidak bertanggungjawab mengaut keuntungan.
Mati otak* Menjalankan pemeriksaan perubatan dengan cara professional tentang berlakunya mati otak.
* Digalakkan mendapat persetujuan dari keluarga terdekat dari suami, anak, ibu dan bapa.
* Perakuan tentang berlakunya mati otak hendaklah dilakukan oleh sekurang-kurangnya tiga doktor profesional (doktor Islam diutamakan).
* Sekiranya dengan kecanggihan rawatan perubatan (sains dan teknologi) boleh mengubat, maka suasana ini gugur.
Suntingan dari sumber : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia( JAKIM)
Neraka untuk 7Anggota
ALLAH menyediakan tujuh pintu neraka jahanam. Menurut ulama, tujuh pintu neraka itu disediakan untuk salah satu daripada anggota tubuh kita iaitu mata, telinga, lidah, perut, tangan, kemaluan dan kaki.
Mata adalah pemberian Allah yang amat besar dan tidak terkira nilainya. Dengan mata, kita dapat menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah supaya kita lebih bertakwa.
Mata yang dianugerahkan bukan untuk melihat wanita yang bukan mahram, wanita seksi, memandang keaiban sesama masyarakat atau menghina saudara Muslim yang serba kekurangan.
Telinga hendaklah dipelihara daripada mendengar umpat keji, percakapan kotor atau perkara bidaah. Gunakan telinga untuk mendengar bacaan ayat suci al-Quran dan kalimah Allah atau untuk menuntut ilmu agama.
Lidah hendaklah digunakan untuk berzikir, memuji kebesaran Allah serta menyampaikan kebenaran kepada sesama manusia dan menyeru ke jalan Allah.
Lidah juga perlu digunakan bagi menyampaikan ilmu agama dan bukan untuk memfitnah sesama sendiri.
Jika kita tidak menjaga lidah secara lisan, ini amat buruk risikonya kerana boleh menyebabkan berlaku perkara tidak diingini. Akibatnya, boleh menjerumus ke neraka.
Dusta adalah ibu segala dosa dan perbuatan itu boleh mendatangkan pertengkaran dan menjejaskan kewibawaan dan kepercayaan masyarakat kepada kita.
Perut. Memelihara perut amat penting. Kita perlu mengelak daripada mengisi dengan makanan haram.
Perut juga jangan diisi berlebihan kerana perbuatan itu boleh mendatangkan kemudaratan seperti membekukan hati, melemahkan badan dan membuatkan kita malas untuk beribadat.
Justeru, Islam menggalakkan kita bersikap sederhana apabila menghadapi makanan dan mengisi perut dengan rezeki yang halal.
Kemaluan. Ia perlu dipelihara daripada perkara yang haram. Tutup aurat dan jauhkan daripada menonton filem lucah yang menaikkan nafsu syahwat. Bahaya menanti kita jika gagal mengawal nafsu yang akhirnya membawa kepada perkara maksiat, mencabul kehormatan, rogol dan perbuatan yang dilaknat Allah.
Tangan. Anugerah Ilahi ini perlu dipelihara dan digunakan untuk perkara kebaikan seperti menolong orang, mencari rezeki halal, menentang segala kezaliman, menulis perkara yang baik umpamanya menulis ilmu pengetahuan dan panduan untuk masyarakat, bukan menulis kejahatan orang atau memfitnah sesama Muslim.
Kaki. Gunakan untuk menuju jalan yang diredai Allah, bukan untuk menjejaki tempat maksiat seperti disko, kelab malam, rumah urut dan tempat perjudian.
Gunakan untuk ke masjid bagi berjemaah, meramaikan majlis kenduri dan segala macam bentuk kebaikan. Maka, gunakan kaki untuk melangkah ke syurga.
Sumber: Harian Metro
Khutbah Terakhir Rasulullah s.a.w
Saturday, 23 June 2012
20-8: Perpecahan umat Islam menjadi 73 puak
Takhrij hadith:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ ح و حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِي صَفْوَانُ نَحْوَهُ قَالَ حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِيُّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ
أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ
terj:
(HR Abu Daud, no.3981, lidwa) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwan. (dalam jalur lain disebutkan) Amru bin Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Shafwan seperti itu. Ia berkata, "telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al Harazi dari Abu Amir Al Hauzani dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan Bahwasanya saat sedang besama kami ia berkata, "Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Al Jama'ah." Ibnu Yahya dan Amru menambahkan dalam hadits keduanya, "Sesungguhnya akan keluar dari umatku beberapa kaum yang mengikuti hawa nafsunya seperti anjing mengikuti tuannya." Amru berkata, "Seekor lekat dengan tuannya, yang jika ada tulang bersamanya pasti dia akan mengikutinya."
Tahqiq: Kata syaikhul Islam Ibn Taymiyah rh:
الراوي:-المحدث:ابن تيمية - المصدر:مجموع الفتاوى- الصفحة أو الرقم:3/345
خلاصة حكم المحدث:صحيح مشهور في السنن والمسانيد
Sahih masyhur dalam kitab2 sunan dan masaanid
Hadith ni dha`if di sisi Ibn Hazm dan Dr Yusof al-Qardhawi (Fiqh Ikhtilaf fil Islam)
Mereka mendha`fkan kerana hadith ni boleh dimaqlubkan atau diselewengkan maksudnya.
Bagaimana hadith ni difahami secara songsang (maqlubah)?
1. Orang mula menghitung jama`ah, kumpulan, tareqat, NGO dan parti di dalam negara masing-masing sampai angka 73 dan menyesatkan 72 kumpulan, dan hanya membenarkan 1 kumpulan sahaja yg masuk syurga. Ini pernah dilakukan oleh KH Sirajuddin Abbas (semuga Allah mengampuninya) dalam kitabnya "I`tiqad ASWJ" telah menghitung 73 puak dan menyesatkan 72 puak tersebut (salah satunya wahabiah)
2. Setiap jama'ah dan kumpulan Islam akan menganggap dan meyakini bahawa merekalah golongan yang selamat itu, thaifah mansyuurah, kumpulan ASWJ, atau tha'ifah najiah, dll.
Tahqiq: Ini adalah fahaman yang maqlubah (songsang), menzalimi hadith Nabi, dan menzalimi kumpulan yang mereka telah sesatkan dan telah divonis (cop) masuk neraka.
Pemahaman yang betul tentang hadith ini jika kita menetapkan ia hadith sahih atau hasan, ialah perpecahan memang benar-benar terjadi ke atas umat Islam, kalau kita tak berpecah, masakan kita menjadi 56 buah negara OIC! Sebab itulah kita lemah, dijajah dan hina di atas pentas politik dunia. Perpecahan ini berlaku bukan dalam jangkawaktu tertentu atau di sesebuah lokaliti sahaja, melainkan perpecahan yang panjang dan merata, bermula dari zaman Nabi saw lagi, mendapat momentum semasa pembunuhan Uthman hinggalah zaman kejatuhan khilafah Uthmaniah, seterusnya era penjajahan dan terus menerus hingga Kiamat.
Perpecahan di zaman Nabi ialah ujudnya golongan munafiq, dan inilah ibu segala perpecahan, seperti virus atau kanser yg menunggu masa untuk strike. Dalil keujudan golongan munafiq ialah:
AQT 2:08 [Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman]
Dari golongan munafiq inilah mereka muncul di zaman Abu Bakar dengan murtad dari agama, pembunuhan Umar oleh majusi y g juga munafiq, kekacauan di zaman Uthman dan Ali oleh munafiq, Ibn Saba', kemudian Khawarij, Muktazilah, Qadariah, hingga terus menerus ke abad 20 dengan Qadiani dan anti-hadithnya. Dan sekarang muncul pulak gerakan Liberal atau JIL kini. Kisah perpecahan ini hendaklah di lihat dalam kitab2 karya al-Syahrastani, Ibn Hazm dan Khatib al-Baghdadi.
Terkecuali dari hadith perpecahan ini ialah perselisihan dalam masalah furu' akidah, seperti kata DYQ, perselisihan antara golongan salafiyah vs asya'irah dalam masalah sifat Allah, perselisihan dalam masalah furu' fiqih atau madzhab, itu adalah masih dalam kerangka perselisihan yang dibenarkan.
Isu penting dalam hadith ini ialah, ialah siapakah 'al-jama'ah' atau siapa yang mengikuti jalanku dan sahabat2ku? Maka masing-masing di antara kita, mulai sekarang tekunlah menyelidiki siapakah golongan ASWJ, mengenali manhaj yang pertengahan, yg paling hampir dengan kaum salaf.
Jangan cepat ingin mendakwa anda benar berada di atas jalan salaf, dan orang lain tidak, tapi pastikan dulu sejauh mana anda telah memahami intipati ajaran kaum salafus-soleh dan telah merasai kemanisan beramal dgn ajaran ASWJ itu. sekian
LOVE is MIRACLE but the ONE who creates LOVE is the MOST MIRACLE.
Sering saya ulang ayat itu.Menjadi penawar duka di Hati.Kadangkala kita rasa kecewa bukan ditemukan dengan orang yang salah.Hati kita merasa sangat susah.Tetapi Allah telah menjanjikan selepas kesusahan pasti datang kemudahan.Selepas kekecewaan pasti datang kebahagiaan. Iman mengajar kita untuk menjadi manusia yang positif.Saya petik sedikit tulisan dari blog saya yang dah berkurun di post. Tak sangka saya pernah publish nasihat ini.Mungkin ada yang saya copy tapi tidak jumpa dimana sumbernya.
Wahai temanku,
Disaat Hati kita meronta untuk mencintai dan dicintai. Alangkah remuk redamnya hati tatkala apa yang kita cintai tidak kita miliki. Alangkah kecewanya jiwa tatkala cinta kita tidak dibalas oleh orang yang kita cintai. Ternyata hati itu bukan milik kita, ia milik Allah. Kita tidak bersalah tatkala cinta itu lahir terhadap seseorang, tetapi kita keterlaluan tatkala kita memaksa ia kepada seseorang. Bukankah sepatutnya kita redha dengan ketentuan Allah yang tidak menumbuhkan cinta terhadap kita di hati orang yang kita cintai? Alangkah zalimnya kita tatkala kita tidak dapat menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Sedangkan saban hari kita sering tidak menghargai cinta Allah, kita tidak pula membalas segala anugerah cinta yang Allah berikan kepada kita pada setiap hembusan nafas, pada setiap detik kehidupan yang kita lalui. Bukankah Allah lebih layak untuk murka kepada kita kerana kita tidak membalas-Nya dengan ketaatan yang sepatutnya?
Wahai sahabatku,
Allah menjanjikan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik. Yakinlah akan janji Allah, sesungguhnya Allah tidak memungkiri janji. Perbaikilah setiap inci kehidupanmu agar engkau termasuk di kalangan orang yang beroleh pasangan yang baik. Allah tahu tentang dirimu lebih daripada engkau sendiri. Maka Allah telah menetapkan untukmu lebih baik daripada apa yang engkau kehendaki. Boleh jadi engkau cintakan sesuatu tetapi ia buruk bagimu dan begitu juga sebaliknya. Pada setiap persimpangan kehidupanmu, apakah engkau merasakan bahawa Allah tiada bersamamu? Bahkan dia sentiasa mendengar dan melihatmu. Persoalannya, apakah engkau sudah merintih pada-Nya, meminta pada-Nya dan memperlihatkan apa yang sepatutnya kepada –Nya? Aku berlindung dengan Allah daripada menjadi hamba yang kufur dan lupa diri.
Wahai saudaraku,
Sungguh cinta itu telah menjadi faktor yang dapat mengubah sesuatu kepada lebih baik atau sebaliknya. Ada manusia biasa yang berubah menjadi wali kerana kuasa cinta, dan ada pula yang bisa menjadi hina kerana dikuasai cinta. Ya, tamadun itu berkembang dan boleh jadi hancur kerana cinta. Tidakkah engkau melihat Taj Mahal yang terbina kerana cinta? Sebaliknya, ada pula yang membunuh kerana cinta. Persoalanku kepadamu, apakah engkau ingin berubah kerana cinta ke arah Redha Allah atau mungkin lebih jauh daripada Allah?Fullstop.
renung-renungkan kembali..jangan sampai kekecewaan mu menjadikan dirimu lebih hina lagi di mata Tuhan.Sebaliknya berhijrahlah untuk mencintai Allah dulu dan berkahwinlah atas nama Allah.CINTA itu hanya ALAT sedang ALLAH itu adalah MATLAMAT..!!
Halal kan saja
Tatkala tiada lelaki yang hadir memetikmu & janganlah engkau sekali2 merendahkan dirimu Menggugurkan diri..menyembah tanah.. Sedangkan engkau sebenarnya telah ALLAH jadikan begitu tiggi mertabatmu.. Tulang rusuk Adam yang hilang, biarlah dia yang mencarinya sendiri. Hawa pula, tunggulah dan bersabarlah, tak perlulah kamu yang mencari Adam. Kerana kamu tetap tulang rusuknya yang hilang, dia akan datang mencarimu dan mengambilmu suatu hari nanti. Apa yang boleh kamu usahakan Hawa ialah berdoa agar Adam yang datang itu adalah Adam yang beragama, beramal dengan agamanya dan punya akhlak yang baik. Dengan kata lain dapat membimbing kamu ke jalan yang lurus untuk ke syurga...
dia berjaya anda pula bagai mana??
Ketika die diberi dugaan dengan bentuk tubuh nya agak kurang menyenangkan pada mata dia dan kawan2..Dia berjaya menutup aurat..Tapi bila rahmat dan berkat usaha diri sendiri dan bantuan pencipta dia berjaya kurangkan bentuk badan dan mendapat bentuk yang di ingini.Tapi kufur dengan nikmat itu dan berjaya mendedahkan aurat yang selama ini disimpan..
teruna dan dara


